Selasa, 08 Januari 2013

Kujang Jawa Barat



Kujang

Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.

Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.

Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda

Kujang, senjata khas Sunda

WISATA JAWA BARAT

KAWAH PUTIH

 Kawah Putih jaraknya yang cukup jauh dari kota Bandung,sekitar 2 - 3 jam, tempat ini berada di daerah Ciwidey. Pemandangannya indah, udaranya sejuk menjurus dingin. Di atas gunung yang berpasir warna putih, dan ditengahnya terdapat danau berwarna hijau, adalah suatu pemandangan yang cukup memanjakan mata. Tempat ini biasa diambil sebagai latar untuk foto pre wedding.
Tempat wisata yang indah ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Franz Wilhelm Junghuhn seorang seorang ahli botani Belanda yang peranakan Jerman. Sebelumnya tempat ini tidak pernah disinggahi bahkan oleh penduduk setempat, karena pendedek mengangggap tempat ini angker. Baru pada tahun 1983, pihak perhutani unit III Jawa Barat membuka kawasan ini sebagai obyek wisata untuk masyarakat umum.
Dikawasan ini, pengunjung dapat menikmati berbagai keindahan alam Danau Kawah Putih seperti air panas yang muncul dicelah bebatuan yang mengeluarkan bunyi letupan2 kecil dari gelembung gelembung air yang pecah, sesambil melihat pasir yang terhampar putih, tanaman tanaman langka seperti edelweis, cantiqi, vaccinium ,,sangat indah !. Pemandangan yang terhampar memanjakan mata dan rasa sehingga kenyamanan dalam fikiran dan jiwa akan mengalir deras memunculkan ekspresi kekaguman yang jika di ekspresikan secara verbal atau pun gerak sungguh tidak akan bisa termunculkan, karena kekaguman yang membuat nyaman itu hanya akan terasa oleh pikiran dan jiwa masing masing orang yang merasakannya.

Pengunjung juga dapat melihat perubahan warna air kawah tersebut, kadang hijau kebiru biruan, kadang juga kecokltan ketika matahari memancarkan sinar terangnya. Meski demikian, warna putih adalah warna dominan air kawah tersebut begitu juga dengan warna pasir dan bebatuannya
Akses dari Bandung ke Kawah Putih ini bila ditempuh dengan angkutan umum, dapat dengan angkutan umum(angkot) atau Bisa jurusan Bandung - Ciwidey yang di terminal bis Leuwi Panjang. Bagi yang memakai kendaraan pribadi, ya tinggal langsung saja jalan ke arah ciwidey. 

Harga tiket akhir akhir ini jika libur atau hari besar sangat tinggi bisa mencapai rp. 100.000,- / orang. dari harga tiket resmi yang berkisar Rp. 20.000,- an saja. Negolah, sepertinya bisa turun joy !

Di kawasan wisata ini terdapat fasilitas fasilitas penunjang seperti mushola, toilet, area parkir yang memadai, sentra cindera mata, dan pastinya warung warung jajanan yang menjual jagung bakar dan reus, strawberi dan lainnya.

Bagi pengunjung yang ingin bermalam, tidak usah khawatir karena sepanjang jalan disekitar kawasan ciwidey trdapat Villa, Hotel, Wisma yang dapat dijadikan tempat bermalam yang nyaman dengan harga yang bersahabat. Bagi yang ingin menginap secara alami terdapat juga penyewaan tenda. Okey Joy! selamat menikmati indahnya alam Priangan,,,


Gedong Sate

GEDUNG SATE

Gedung Sate didirikan pada 27 Juli 1920, gedung ini awalnya memang dibangun sebagai pusat pemerintahan pada saat itu dimana Pemerintahan Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai Ibukota negeri jajahannya di Indonesia. Pemilihan Kota Bandung didasarkan pada pertimbangan iklim yang cocok karena Kota Bandung begitu sejuknya ditambah pemandangan alam yang indah. Konon, iklim Kota Bandung saat ini senyaman Prancis Selatan di Musim panas.

Dengan penetapan pusat pemerintah itu, maka dibangunlah Gedung Sate atau Gouvernements Bedrijven sebutannya di masa itu dengan perencanaan yang dibuat secara matang oleh suatu tim yang diketuai Kolonel Purnawirawan V.L. Slors, beranggotakan antara lain Ir. J. Berger, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan In G. Hendriks serta pihak "Gemeete van Bandoeng"
 
Tim bertugas merencanakan dan membangun berbagai gedung perkantoran yang merupakan pindahan dari keseluruhan departemen dan instansi lainnya yang berjumlah 14 dari Batavia (Jakarta) ke Bandung, termasuk pembangunan komplek perumahan untuk menampung sekitar 1500 pegawai pemerintahan. Setelah berhasil disusun perancanaan pembangunan GB, dilakukan peletakan batu pertama gedung "GB" pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johana Catherina Coops, putri sulung Walikota Bandung B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia.
Pembangunan Gedung Sate melibatkan sekitar 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton. Selebihnya adalah tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang merupakan pekerja bangunan yang berpengalaman menggarap Gedong sirap (Kampus ITB) dan Gedong papak (Balai Kota). Mereka adalah pendudukan dari kampung Sekeloa, Coblong, Dago, Gandok, dan Cibarengkok.

Selama kurun waktu empat tahun lamanya, di awal tahun 1924 berhasil diselesaikan Kantor Pusat PTT kemudian dilanjutkan dengan pembangunan induk bangunan utama GB yang tuntas dikerjakan pada September 1924 termasuk bangunan perpustakaan.

Gedung sate saat ini jika weekend ( terutama) dan Lapangan Gasibu di banjiri orang2 yg berolah raga atau sekedar mencari makanan dan barang barang khas bandung yang banyak di jajakan oleh para pedagang kaki lima .  

Mulai dari Cilok, Batagor, Nasi Liwet Baso Tahu, Timbel dan lainnya dan tidak ketinggalan Aneka Minuman yang menggugah selera ,,,Dan jangan lupa barang barang seperti Baju, Celana, Kursi, Lukisan, Pigura, berbagai macam Asesoris seperti Tas yang berkualitas distro papan atas juga tersedia,,,,hmmm Bandung,,,Maybe God had smile when created this our Beautiful City.

 

Kata Serapan dari Bahasa Belanda : Nama Makanan

Banyak kata/bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari kata/bahasa Belanda. Tapi saya kan cerita beberapa saja yang banyak bersangkutan dengan makanan, mungkin Joyme yang nanti mau menambahkan ok !

Mas/kang/bang  beli sirup stroberi( biasanya orang indonesia bingung antara stroberi dan arbei ), jangan lupa beli es nya ya ! tanpa sadar kita mengucapkan kata serapan dari belanda, dalam bahasa Belanda es = ijs, sirup = stroop . Ada juga yang lain seperti alpukat(avocaat), sirsak(zuurzak),sardencis( sardientjes) yang merupakan kata kata yang biasa dipakai sehari hari, Mamat ! cepat ke pasar(passeur)
ada belanjaan ibu yang kurang, satu bungkus margarine(margarine), dan 2 butir kol(kool) buat bikin sop(soup) ! Eits tunggu mat, JANGAN LUPA kalo keluar pake SANDAL(sandalen) jangan bikin malu ibu.
 Well, mungkin karena Bangsa Indonesia sudah sangat lama berinteraksi dengan orang Belanda ( saya mengatakan  berinteraksi bukan dijajah ) maka kata kata, bahasa, makanan, budaya  dan lain lainnya banyak yang bercampur. Tetapi, bahasa dan kebiasaan yang merupakan jendela kebudayaan suatu bangsa banyak terasa pengaruh nya seperti kebudayaan minum teh (thee) yang sakral bagi orang jepang dan china, lalu banyak diikuti oleh orang eropa, padahal orang Indonesia sudah melakukan konsumsi teh sejak berabad abad yang lalu dan telah menjadi minuman biasa saja.
 Di Bandung, yang sejak dulu merupakan daerah yang bisa dikatakan terbuka terhadap budaya asing banyak terlihat percampuran kultur nya, mulai dari bangunan bangunannya, makanan, dan lain lainnya. Ada perkedel Bondon yang alamatnya ada di tulisan saya sebelumnya( perkedel = frikadel ) yang merupakan makanan yang mudah diterima dan umum di sajikan, sering disajikan pada masakan soto bandung. Belum lagi bistik/bestik(biefstuk) yaitu masakan daging berkuah kecap agak manis yang disajikan bersama irisan kentang, wortel(wortel),buncis(boontjes) plus dengan saus tomat(tomaat) sebagai penambah cita rasa.
 Masih banyak lagi kuliner Bandung yang terpengaruh kultur Belanda, seperti kueSus(Soes),panekuk(pannenkoek,pancake=english ), sosibrod(saucijzenbrood), pastel(pastei) yang merupakan makanan yang biasa dijumpai di Bandung.Orang Belanda yang bercita rasa cheese/milk dalam pemilihan makanan, terlihat juga dalam selera kudapan dan masakan beberapa orang bandung(terutama di perkotaan). Kue kue seperi kue keju (kastangel) yang merupakan kue kering wajib pada hari raya lebaran, lidah kucing(kattentong,kat=kucing dan tong=lidah ) yang juga kue kue "resmi" hari raya yang hampir disetiap ruang tamu pada hari lebaran di sajikan berjejeran dalam topples(stoffles) bersama kaastangel dan kue nastar, nastar adalah sama sama kue "kumpeni" lokal yaitu kue kering berisi selai(gelei) nanas(ananas).

Ada juga kata kata lainnya seperti, sosis(soucijs), puding(pudding), koki(kokkin), kopi(koffie), permen(pepermunt), biskuit(biscuit), kue Tar(Taart).
Ada juga yang terserap kedalam bahasa daerah, Dawegan(Sunda) = Kelapa Muda, tetapi terserap karena salah tanggap bahasa. begini ceritanya, ada seorang Belanda yang memerintahkan kepada seseorang anak muda : " jongere, down again that coconut ", terdengar sayup sayup dari jauh oleh orang pribumi Sunda yang terdengar hanya 'down again' yang tersamarkan.. "ooo eta teh ngaranna dawegan ceuk walanda mah nya "(ooo itu namanya dawegan kata orang belanda sih ). Jadi kata kata dawegan sampai sekarang dipakai,,  ( kebenaran cerita ini diragukan banget hehehe )

FOTO BANDUNG TEMPO DULU 

Alun alun bareto/baheula

Hotel Homan
Hotel Preanger
Jl Asia Afrika tea
jl.Bancey
Jl.Braga
Jl.Riau
Jl.Siliwangi
Viaduct/Piade cek barudak ayeunamah

Sejarah Sumur Bandung

Sumur itu berada di salah satu lokasi tepat dibelakang tempat parkir gedung PLN Distribusi JawaBarat. Keberadaanya sangat terawat bahkan airnya sering diambil oleh masyarakat yang datang berkunjung ke sumur tersebut. Sumur tersbut diberi penutup mirip mahkota kaca dan dipagari oleh tali dari kain sehingga terkesan sangat dilindungi dan di hormati. 
 Ada sejarah yang beredar dan dipercayai oleh mayarakat umum tentang legenda sumur ini, konon ketika Raden Adipati Wiranatakusumah II menancapkan tongkatnya dan keluarlah air dari lubang tancapan tersebut. Karena air yang keluar cukup deras maka di galilah dan dibuatlah menjadi sebuah sumur. Bandung yang kala itu merupakan hutan belantara merupakan daerah yang menjadi alternatif pilihan oleh Raden Wiranatakusumah II untuk dijadikan ibukota karisidenan Priangan, yang kala itu ibu kota berkedudukan di Karapyak( sekarang dayeuh kolot ) yang sering dilanda banjir luapan sungai citarum( hingga sekarang ).
Dengan pertimbangan tersebut dan juga atas dasar keinginan Gubernur Jendral Daendels(Belanda) yang menginginkan adanya kota peristirahatan bagi para petinggi pemerintahan maka di pindahkanlah ibukota priangan itu dari Karapyak ke sebuah tempat dekat dengan sumber mata air itu keluar(sumur bandung), ditandai dengan membangun sebuah pendopo di sebelah Selatan Alun Alun sekarang. Maka dari situlah dihitung berdirinya Kota Bandung.



 

Sang Hyang Tikoro

Berbicara tentang sejarah geologi Bandung, nampaknya belum lengkap jika tidak berbicara tentang Sanghyang Tikoro. Gua bawah tanah yang dialiri oleh Sungai Citarum tersebut sangatlah memukau mata dan memancing fikiran untuk selalu bersukur terhadap ciptaan NYA.
Makna Sanghyang Tikoro dalam bahasa Indonesia adalah dewa tenggorokan. Sanghyang berarti dewa sedangkan tikoro berarti tenggorokan. Sekitar 20-30 juta tahun yang lalu daerah tersebut adalah terumbu karang indah dengan kedalaman sekitar 10-20 meter. Terbentuknya gua bawah tanah tersebut membuktikan bagaimana hebatnya proses erosi yang dilakukan aliran Citarum hingga mampu melubangi batuan kapur yang keras.

Agaknya dari peribahasa Sunda cikaracak ninggang batu lila-lila jadi legog terinspirasi dari peristiwa erosi tersebut. Banyak orang percaya bahwa gua ini adalah tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Padahal dalam buku Geowisata Sejarah Bumi Bandung yang ditulis T.Bachtiar bersama rekan-rekan dari Riset Cekungan Bandung, menyatakan bahwa bobolnya danau tersebut bukan di sini melainkan di daerah Pasir Kiara dan Pasir Larang.
 Sang Hyang Tikoro
Ada mitos yang menyebutkan bahwa bilamana seutas rambut atau sepotong lidi terbawa hanyut ke dalam Sanghyang Tikoro, maka akan terdengar jeritan yang menyayat hati dan Bandung akan kembali tergenang menjadi danau. Secara keilmuan hal itu tidak mungkin terjadi.

Tetapi secara filosofis mitos tersebut mengajarkan anak-anak Sunda untuk mencintai alamnya dengan tidak membuang apapun ke dalam sungai. Aliran sungai yang mengaliri gua tersebut dibendung terlebih dahulu oleh Sangkuriang modern di PLTA Saguling untuk menghasilkan listrik 700 MW untuk pasokan Jawa dan Bali.
Danau Bandung Purba
Sayangnya air Citarum yang mengalirinya sudah terkontaminasi oleh limbah pabrik sehingga tercium bau yang menyengat. Sebuah keadaan ironis di mana aset berharga tanah Pasundan harus berhadapan dengan kerasnya arus modernisasi industri. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran manusia-manusia Sunda untuk melestarikan kekayaannya. Jangan sampai keeksotisan Sanghyang Tikoro pudar karena tergerus materi dan pragmatisme semata.

SITU AKSAN

Situ adalah bahasa Sunda dalam Bahasa Indonesia adalah Danau. Situ Aksan adalah peninggalan Danau Purba Bandung yang sering juga disebut sebagai situ hyang sebenarnya masih banyak Situ selain situ Aksan yang ditemukan di daerah Kota Bandung, tetapi akibat perubahan alam secara alamiah dan atau ketidak pedulian, kekurangtahuan serta kecerobohan pemerintah kota, sisa situ hyang lenyap ditelan pembangunan dan perluasan wilayah Kota Bandung. Sekarang tempat-tempat tersebut hampir semua hanya tinggal nama tanpa keberadaan airnya.

Banyak tempat baik di Kota Bandung maupun di daerah cekungan Bandung yang mengindikasikan asalnya merupakan tempat yang berair, sebagaimana yang dipaparkan oleh T.Bachtiar (“Mengenal Asal-muasal Nama Tempat di Cekungan Bandung”, Pikiran Rakyat, Agustus 2005) yaitu antara lain nama tempat yang menggunakan kata Situ, leuwi, Ranca, Legok, Empang, Bantar, Rawa, Dano, Muara, Parakan, Beber, Lengkong, Parung, Talaga, Teluk, Tanggeung, dan Bugel.

Salah satu sisa dan bukti sejarah keberadaan Situ Hyang yang paling monumental di Kota bandung adalah Situ Aksan (lahan situ milik Aksan) yang sampa pada awal 1970-an masih berfungsi sebagai salah satu lokasi rekreasi masyarakat Bandung.
Situ Aksan dengan pulau kecil ditengah-tengahnya yang dapat dicapai meggunaka perahu cukup terkenal pada tahun 1950-1960 sebagai tempat rekreasi. Tahun 1970-an luas Situ Aksan semakin mengecil akibat ditimbun oleh pembngunan hunian. Pada tahun 1980-1n Situ Aksan sudah merupakan kolam pemancingan dan kolam tempat itik dan angsa berenang, dan pda tahun 1990-an sudah tidak tersisa lagi, yang tinggal anya kubangan kecil saluran pembuangan air saja. Pemerintah Hindia Belanda menyebut situ aksan dengan nama Westerpark dan nama jalan ke Situ Aksan diberi nama Westerparkweg (sekarang Jl. Suryani).
Situ yang masih ada di Kota Bandung adalah Situ Emuh di Selatan Kolam Renang Karang Setra dan Situ Neglasari di Ciumbuleuit dengan luas situ yang sudah jauh mengecil.

Situ yang sekarang sudah tidak ada lagi adalah itu Bunjali di Selatan Kolam Renang Cihampelas. Nama Situ Bunjali berasal dari nama tumbuhan Jali yang dalam bahasa Sunda disebut Hanjeli, kaena disekeliling situ banyak ditumbuhi oleh tanaman tersebut. Di Lokasi Situ Bunjali sekarang sudah berdiri komplek perumahan.

Sumber:
BANDUNG Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah
Sudarsono Katam Kartodiwirio, Kiblat Buku Utama, 2006

Panon Hideung

Lagu Panon Hideung (Mata Hitam) ciptaan Ismail Marzuki yang merupakan lagu rakyat Sunda dan sudah tidak asing lagi di telinga orang Sunda. Namun lagu tersebut bukan asli milik Indonesia, karena lagu asli nya berjudul Ochi Chernye (Dark Eyes) yang merupakan lagu rakyat Ukrania.
Lalu bagaimana lagu ini masuk ke Indonesia dan bahkan di-adaptasi menjadi lagu Sunda? Akhirnya jawaban itu didapatkan dengan keterangan yang meyebutkan,
"Tidak kurang uniknya adalah sejarah lagu yang dikenal Hallo-hallo Bandung ciptaan Ismail Marzuki. Karena mendapat tugas memimpin Studio Orkes NIROM II Bandung di Tegallega bersama Jan Snijders dengan sederetan penyanyi Miss Lee, Miss Netty, Miss Annie Landauw, Miss Nining dan juga Miss Eulis, komponis Betawi itu jatuh cinta pada yang disebut terakhir, yang dinikahinya sekitar tahun 1940 dan diberi nama Eulis Zouraida, mojang Priangan berdarah Sunda-Arab. Selagi pacaran diciptakan lagu Als de Orchiedeen Bloeien dan Panon Hideung, sebuah lagu Rusia dengan syair Sunda. Memang Eulis Bandung itu bermata hitam (Black Eyes), hidung mancung, kulit kuning seperti liriknya dalam bahasa Sunda".

Jadi menurut keterangan tersebut lagu Panon Hideung diambil dari sebuah lagu Rusia dan diubah dengan syair Sunda.
Ismail Marzuki 1914 - 1958
Lirik lagu tersebut ditulis oleh seorang penyair dan penulis Ukraina bernama Yevhen Hrebinka. Dipublikasi pertama kali di Gazeta Literaturnaya pada tanggal 17 Januari 1843. Meskipun sering ditandai sebagai lagu Gypsy Rusia, Lirik dan musik tersebut ditulis oleh seorang penyair Ukraina, Yevhen Hrebinka dan seorang komposer Jerman, Hermann Florian, dan menjadi lagu tentara Rusia (Russian Red Army Choir ). Feodor Chaliapin mempopulerkan lagu tersebut di luar negeri dalam versi yang telah diubah oleh dirinya sendiri dan banyak dinyanyikan oleh seniman Eropa maupun Amerika.

Lagu ini pernah dinyanyikan pula oleh The Tielman Brothers pada live Dutch TV pada tanggal 23 Januari 1960 dengan rock klasik sepanjang masa indo-instro instrumental Black Eyes (Ochi Chorneye / Dark eyes / Les yeux noirs / Panon Hideung). Yang dimainkan lead guitar dan vokalis Andy Tielman